Merajut Masa Depan Masyarakat di Kawasan Tambang Freeport


28 February 2024


Salah satu kontraktor PT Freeport Indonesia (PTFI), Tina Komangal (43), menyatakan bahwa pengalamannya sebagai mitra perusahaan pertambangan mineral tersebut telah memberikan banyak pembelajaran. 

“Saya belajar banyak hal sejak menjadi mitra Freeport Indonesia. Saya bersyukur meski tidak sekolah, saya dibimbing hingga bisa punya usaha sendiri dan hasilnya bisa dinikmati bersama keluarga,” ucap Tina mengawali ceritanya seperti dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (12/2/2024). 

Pada siang itu, Tina mengenakan kemeja batik dan celana hitam, dilengkapi dengan rompi dan helm sebagai alat pelindung diri (APD).  Perempuan yang berasal dari Kampung Waa Banti, Distrik Tembagapura, Mimika, ini sedang melakukan pemeriksaan tanaman cabe yang tersebar di kawasan MP-21, yaitu Pusat Reklamasi dan Keanekaragaman Hayati yang dikelola oleh PTFI. 

Di kawasan reklamasi tailing dan percontohan tersebut, sebagian lahan endapan tailing telah diubah menjadi lahan produktif melalui berbagai program reklamasi yang mencakup pertanian tanaman semusim, hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan sapi, kehutanan, dan budi daya perikanan air tawar. 

Tailing adalah sisa pasir dari proses pengolahan batuan bijih tambang di pabrik pengolahan PTFI. Limbah industri pertambangan ini diendapkan dan dikelola di daerah yang telah ditetapkan di area dataran rendah.Tina yang merupakan warga Suku Amungme telah bekerja sebagai kontraktor di PTFI sejak 2012. 

Merajut Masa Depan Masyarakat di Kawasan Tambang Freeport
Saya bersyukur meski tidak sekolah, saya dibimbing hingga bisa punya usaha sendiri
Merajut Masa Depan Masyarakat di Kawasan Tambang Freeport
Saya bersyukur meski tidak sekolah, saya dibimbing hingga bisa punya usaha sendir
Merajut Masa Depan Masyarakat di Kawasan Tambang Freeport
Saya bersyukur meski tidak sekolah, saya dibimbing hingga bisa punya usaha sendiri
Merajut Masa Depan Masyarakat di Kawasan Tambang Freeport
Merajut Masa Depan Masyarakat di Kawasan Tambang Freeport
Merajut Masa Depan Masyarakat di Kawasan Tambang Freeport


Bersama dengan delapan karyawan lainnya, ia bertanggung jawab atas pengelolaan pertanian dan penghijauan di area tersebut. Tugasnya meliputi penanaman dan perawatan tanaman tomat, cabe, kacang panjang, terong, pepaya, pisang, dan berbagai buah-buahan lainnya.

“Meski lahan (tempat) bercocok tanam ini pasir tailing, tetapi sayuran dan buah-buahan bisa tumbuh baik dan aman dikonsumsi,” kata Tina. 

Sebelum bergabung dengan PTFI, Tina pernah bekerja sebagai Penerjemah Bahasa Amungme di Rumah Sakit (RS) Banti.  “Dulu saya membantu orang-orang dari (daerah) pegunungan yang mau berobat ke Rumah Sakit. Mereka sulit berkomunikasi dengan petugas Rumah Sakit. Saya yang membantu mereka cerita keluhan sakitnya kepada petugas kesehatan,” kata Tina yang mengaku dari profesinya ini bisa belajar berbahasa Indonesia dengan baik. 

Selama sembilan tahun, Tina telah menjabat sebagai juru bahasa, sampai akhirnya PTFI membuka pelatihan bagi calon pengusaha dari tujuh suku di sekitar kawasan pertambangan. “Di Freeport, saya belajar mengelola keuangan, mendirikan usaha, dan mengatur karyawan. Orang-orang Freeport sudah (menjadi) guru bagi saya, (mereka) mendampingi saya sampai saya bisa bekerja (mandiri),” imbuhnya dengan mata berkaca-kaca 

Kini, sudah berlalu 12 tahun sejak Tina bermitra dengan Freeport. Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, ia telah berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga ke universitas, mampu menyediakan rumah sehat untuk keluarganya, dan memiliki kendaraan sendiri. “Itu yang saya pikir tadinya hanya bisa didapatkan orang yang sekolah tinggi (universitas). Tetapi, saya bisa buktikan, (bahwa) saya mampu,” tutur Tina. 

 

 

 





Kembali Ke List